Kelompok 6 CB-Agama, Duta Autism Teach For Indonesia(TFI)

Kelompok 6 CB-Agama, Duta Autism Teach For Indonesia(TFI)
Kelompok 6 CB-Agama, Duta Autism Teach For Indonesia(TFI). Dari kiri ke kanan : (Aristama B,Frans Y, Suryanto W, Matthias, Kevin S.W, Yolgan C, Julius K)

Sabtu, 12 Desember 2015

Sosialisasi "Autism is not a joke" Pertemuan 2

“Duta Peduli Autis di Sekolah SMP Pelita Kudus dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama 
Teach For Indonesia”

I. Bagian Awal

Kelas            : LF01 Character Building - Agama
Nama dosen : Agus Masrukhin
Kode dosen  : D3739
Waktu          : Senin, 7 Desember 2015
Pukul           : 11.00 - 12.00
Durasi          : +- 60 Menit
Lokasi          : SMP Pelita Kudus, Jalan Indraloka Raya No.33A 
                       Wijaya Kusuma Grogol Petamburan Jakarta Barat
Jumlah siswa/peserta : 30 orang
PIC : Bpk. Antonius Sukahar

Hadir :

Ketua :
Frans Yonatan - 1801403785

Anggota yang hadir :
1. Matthias - 1801407732
2. Yulius Kevin - 1801428970
3. Aristama Budiono – 1801387163
4. Yolgan Ciady - 1801388191
5. Kevin Satria Wibowo – 1801401451
6. Suryanto Wijaya -  1801411502

Anggota yang tidak hadir :
1. Calvin – 1801449981
    Alasan tidak hadir : masih belum sembuh dari cidera di kaki akibat kecelakaan.             (tidak mendapat surat keterangan dari dokter)
         

Dari kiri ke kanan :  (Aristama B,Frans Y, Suryanto W, Matthias, Kevin S.W, Yolgan C, Julius K)

II. Bagian Isi

a. Teori yang diajarkan di kelas melalui mata kuliah Character Building adalah Tentang apakah itu agama, dan bagaimana  agama itu seharusnya  berperan dalam kehidupan setiap individu di lingkungannya. Secara garis besar agama adalah suatu institusi/wadah  yang mengatur kehidupan rohani manusia. di mata kuliah CB – Agama ini kita diajarkan agar tidak puas dengan hanya memiliki agama saja, tetapi yang lebih penting adalah memiliki iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan dimata kuliah ini juga kita kembali diingatkan kembali untuk terus menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, dan mencintai Tuhan dengan segenap hati kita. Mata kuliah ini juga membahas tentang bagaimana menjalankan kehidupan beragama dengan baik dan bagaimana menghidupkan dan mengimplementasikan keyakinan/ iman yang kita miliki tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
        Pada kegiatan sosialisasi “Autism is not a joke ” minggu ini, sama seperti sebelumnya kami berdiskusi tentang waktu dan tempat untuk berkumpul untuk pergi ke sekolah bersama-sama keesokan harinya. Dan kami juga tidak lupa mempersiapkan semua attribut dan perlengkapan untuk sosialisasi. Pada saat pertemuan kali ini beberapa teman kami datang terlambat sekitar 5-10 menit karena terjebak macet dari kampus, karena tanggal 7 Desember bertepatan dengan diadakannya Binus Festival dan teman-teman kami mendapatkan tugas sebagai visitor di event tersebut. Sesampainya di sekolah kami langsung menemui Bpk. Anton kepala sekolah SMP Pelita Kudus untuk mengkonfirmasi pelaksanaan sosialisasi.
            Kami memulai sosialisasi dengan dengan materi yang lebih banyak mengenai bagaimana bersikap dengan baik dan tepat terhadap autisme, dan membagikan flyer tentang autisme, sebagai attribut campaign. Di pertemuan ini kami masih menggunakan metode classroom untuk mempresentasikan bahan materi sosialisasi kami, tetapi kali ini kami menambahkan beberapa video untuk ditonton peserta, karena kami menganggap penyampain lewat video lebih menarik dan lebih efektif. dan kami juga tetap memberikan challange seperti pada minggu sebelumnya, tetapi kami memotivasi peserta dengan akan memberikan hadiah bagi yang berani menerima challange/menjawab pertanyaan/ mengajukan pertanyaan. dan terbukti kali ini lebih banyak siswa yang berani menjawab/ mengajukan pertanyaan. Pada metode classroom yang kami gunakan tersebut terdapat satu hal positif yang paling membantu dalam penyampain materi sosialisasi yaitu dengan menggunakan metode ini materi yang disampaikan kepada para peserta lebih mudah dicerna karena di kelas biasa pun mereka sudah terbiasa dengan metode ini. Tetap hal yang kurang baik dari metode ini adalah mengontrol siswa lebih sulit, karena mereka lebih mudah mengobrol.
             Dari quisioner yang kami bagikan kepada para siswa dipertemuan kali ini, secara keseluruhan meresponi dengan positif walaupun kami tahu bahwa masih ada beberapa hal yang miss dan perlu diperbaiki untuk selanjutnya.
Survey Eksternal :

Survey eksternal yang kami lakukan adalah dengan memberikan quisioner tentang presentasi kepada para siswa/ peserta, pada  akhir pertemuan sosialisasi . Pada pertemuan kali ini hasil survey sosialisasi yang lakukan mendapatkan apresiasi yang cukup baik, mungkin juga karena ada beberapa video tambahan yang membuat sosialisasi lebih menarik dari sebelumnya. Dan kami juga senang karena ada komentar yang memberikan nilai sangat baik untuk kami.
Kesimpulannya sosialisasi kedua yang kami lakukan ini sudah cukup baik, dan dapat lebih memotivasi daripada sebelumnya .


Survey internal :

Pada pertemuan kedua semua anggota dapat menjadi contoh yang cukup baik, karena semua telah melaksanakan tugas masing-masing dengan baik. Yang masih harus lebih semangat lagi tidak ada, karena hampir semua anggota merasa antusias dalam mengajar dan kebanyakan dari kami juga merasa senang karena para peserta sangat menghargai dan memberikan respon yang baik.


III. Penutup

Hasil kegiatan :
a. Dibandingkan dari awal sosialisasi dengan di akhir sosialisasi, kami dapat melihat bahwa peserta sudah lebih mengerti maksud dari materi sosialisasi yang kami sampaikan. 

b. Seperti pada pertemuan sebelumnya di akhir sesi presentasi kami, kami memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai tindakan atau cara bersikap menghadapi anak dengan gangguan autisme. Ada beberapa orang anak yang berani menjawab pertanyaan tersebut dan kami beri hadiah.








       Melalui kegiatan sosialisasi "Autism is not a joke ini" kita menjadi termotivasi untuk berusaha mengerti dan memahami autisme. Namun, terkadang perbedaan tersebut tidak harus selalu dimengerti tetapi diterima. Karena jika kita bisa menerima perbedaan tersebut kita akan dapat menyikapi perbedaan tersebut(autisme/ perbedaan watak/ perbedaan-perbedaan lainnya) lebih baik. kesimpulannya dengan diselenggarakannya kegiatan sosialisasi ini dapat membuka mata orang banyak tentang autisme dan tidak memandang sebelah mata autisme tersebut. 
        Untuk sosialisasi di kesempatan-kesempatan lainnya, kami akan tetap berusaha melakukan kegiatan dengan semaksimal mungkin. Pada sosialisasi kali ini jumlah siswa/peserta yang hadir berjumlah 30 orang.

Form evaluasi :







Foto-foto sesi pertemuan minggu kedua :




                                    (Matthias, Yolgan, Kevin S.W, Aristama, photo by : Julius)

                                         (Aristama, Suryanto, Matthias, photo by : Frans)

                                                       Sesi menonton video tentang autism




                                         (Matthias, Kevin S.W, Frans, photo by : Julius)

                                 


                                   Foto bersama Kepala Sekolah beserta guru SMP Pelita Kudus 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar