“Duta Peduli Autis melalui sosial media dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama
Teach For Indonesia”
Teach For Indonesia”
I. Bagian Awal
Kelas : LF01 Character Building - Agama
Nama dosen : Agus Masrukhin
Kode dosen : D3739
Waktu : Senin, 8 & 9 Desember 2015
Media : Sosial Media (Line, Facebook, Google+, Instagram)
Hadir :
Ketua : Frans Yonatan - 1801403785
Anggota yang hadir :
1. Aristama Budiono – 1801387163
2. Calvin – 1801449981
3. Kevin Satria Wibowo – 1801401451
4. Matthias - 1801407732
5. Suryanto Wijaya - 1801411502
6. Yolgan Ciady - 1801388191
7. Julius Kevin - 1801428970
7. Julius Kevin - 1801428970
a. Teori yang diajarkan di kelas melalui mata kuliah Character Building adalah Tentang apakah itu agama, dan bagaimana agama itu seharusnya berperan dalam kehidupan setiap individu di lingkungannya. Secara garis besar agama adalah suatu institusi/wadah yang mengatur kehidupan rohani manusia. di mata kuliah CB – Agama ini kita diajarkan agar tidak puas dengan hanya memiliki agama saja, tetapi yang lebih penting adalah memiliki iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan dimata kuliah ini juga kita kembali diingatkan kembali untuk terus menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, dan mencintai Tuhan dengan segenap hati kita. Mata kuliah ini juga membahas tentang bagaimana menjalankan kehidupan beragama dengan baik dan bagaimana menghidupkan dan mengimplementasikan keyakinan/ iman yang kita miliki tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kegiatan sosialisasi “Autism is not a joke ” untuk pertemuan ke 3 dan ke 4 yang seharusnya diisi dengan sosialisasi di sekolah SMA Pelita Kudus. Tetapi setelah kami survey disekolah terdapat kendala, yakni karena siswa di sekolah SMA Pelita Kudus jumlahnya sedikit, siswanya dipindahkan ke sekolah Baptis Elim di daerah grogol.
Maka dari itu kami mengkonsultasikan kepada TFI dan untungnya TFI memberikan solusi yang sangat meringankan dan tentunya sangat membantu kami. Solusi yang diberikan oleh TFI adalah mengadakan sosialisasi di 2 buah media sosial.
Metode yang kami gunakan dalam melaksanakan sosialisasi melalui media sosial ini adalah metod sharing. Dimana kami berbagi post-post yang isinya mengenai autisme di media sosial, hal ini agar public mengerti dan memahami tentang autisme, dan jika hati mereka tergerak maka mereka bisa melanjutkan post tersebut dan sharing melalui media sosial mereka, sehingga semakin banyak yang mengetahui.
Sosialisasi yang kami lakukan melalui media sosial ini membuahkan respon yang positif dan cukup baik, dan sejauh ini belum ada komentar atau tanggapan yang negatif.
(Surat Keterangan pindah sekolah)
Metode yang kami gunakan dalam melaksanakan sosialisasi melalui media sosial ini adalah metod sharing. Dimana kami berbagi post-post yang isinya mengenai autisme di media sosial, hal ini agar public mengerti dan memahami tentang autisme, dan jika hati mereka tergerak maka mereka bisa melanjutkan post tersebut dan sharing melalui media sosial mereka, sehingga semakin banyak yang mengetahui.
Sosialisasi yang kami lakukan melalui media sosial ini membuahkan respon yang positif dan cukup baik, dan sejauh ini belum ada komentar atau tanggapan yang negatif.
Survey Eksternal :
Survey eksternal yang kami lakukan adalah melihat bagaimana respon public dan teman-teman kami di media sosial. ternyata hasilnya cukup bagus, sebagian dari post kami mendapatkan respon yang baik. Baik respon yang berupa Like atau pun comment. Hal ini membuktikan bahwa sosialisasi melalui media sosial cukup efektif dan efisien karena di jaman sekarang orang lebih banyak meluangkan waktunya di sosial media.
Survey internal :
Pada sosialisasi yang dilakukan melalui media sosial ini, semua anggota melakukan sosialisasi nya dengan baik, dengan menggunakan materi yang mereka buat sendiri. Dan ketika mendiskusikan mengenai sosialisasi di sosial media ini, pada awalnya hanya beberapa yang langsung mengerti, yang lainnya belum, tetapi setelah diskusi lebih lanjut barulah mereka mengerti tata cara dan mekanisme dari sosialisasi kali ini.
III. Penutup
Hasil kegiatan :
Kesimpulan dari kegiatan sosialisasi yang kami lakukan adalah kita harus berusaha untuk mengerti dan memahami tentang apa itu autisme. Karena jika kita telah memahami apa itu autisme maka kita akan dapat bersikap lebih baik terhadap autisme tersebut dan bertindak lebih tepat untuk menghadapi autisme. Sehingga tidak ada lagi yang menjadikan autisme sebagai bahan lelucon. Hal ini berguna untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, dan tentunya juga menjaga hubungan baik dengan Tuhan melalui setiap perbuatan baik yang kita lakukan.
Untuk sosialisasi atau kegiatan selanjutnya kami akan terus berusaha lebih baik lagi.
Foto-foto sosialisasi melalui sosial media :
Nama : Aristama Budiono
- Facebook : 9 Desember 2015
- Google+ : 10 Desember 2015
Nama : Calvin
- Faceboook : 9 Desember 2015
- Kaskus : 10 Desember 2015
Nama : Frans Yonatan
- Facebook : 9 Desember 2015
- Line : 10 Desember 2015
Nama : Julius Kevin
- Line : 9 Desember 2015
- Facebook : 10 Desember 2015
Nama : Kevin Satria Wibowo
- Instagram: 9 Desember 2015
- Facebook : 10 Desember 2015
Nama : Matthias
- Instagram : 9 Desember 2015
- Facebook : 10 Desember 2015
Nama : Suryanto Wijaya
- Facebook : 9 Desember 2015
- Line : 10 Desember 2015
Nama : Yolgan Ciady
- Facebook : 9 Desember 2015





















































