Kelompok 6 CB-Agama, Duta Autism Teach For Indonesia(TFI)

Kelompok 6 CB-Agama, Duta Autism Teach For Indonesia(TFI)
Kelompok 6 CB-Agama, Duta Autism Teach For Indonesia(TFI). Dari kiri ke kanan : (Aristama B,Frans Y, Suryanto W, Matthias, Kevin S.W, Yolgan C, Julius K)

Sabtu, 12 Desember 2015

Tugas Pengganti - Sosialisasi di Media Sosial

“Duta Peduli Autis melalui sosial media dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama 
Teach For Indonesia”

I. Bagian Awal

Kelas            : LF01 Character Building - Agama
Nama dosen : Agus Masrukhin
Kode dosen  : D3739
Waktu          : Senin, 8 & 9 Desember 2015
Media          : Sosial Media (Line, Facebook, Google+, Instagram)

Hadir :

Ketua : Frans Yonatan - 1801403785


Anggota yang hadir :

1. Aristama Budiono – 1801387163
2. Calvin – 1801449981
3. Kevin Satria Wibowo – 1801401451
4. Matthias - 1801407732
5. Suryanto Wijaya -  1801411502
6. Yolgan Ciady - 1801388191
7. Julius Kevin - 1801428970
         

II. Bagian Isi

a. Teori yang diajarkan di kelas melalui mata kuliah Character Building adalah Tentang apakah itu agama, dan bagaimana  agama itu seharusnya  berperan dalam kehidupan setiap individu di lingkungannya. Secara garis besar agama adalah suatu institusi/wadah  yang mengatur kehidupan rohani manusia. di mata kuliah CB – Agama ini kita diajarkan agar tidak puas dengan hanya memiliki agama saja, tetapi yang lebih penting adalah memiliki iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan dimata kuliah ini juga kita kembali diingatkan kembali untuk terus menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, dan mencintai Tuhan dengan segenap hati kita. Mata kuliah ini juga membahas tentang bagaimana menjalankan kehidupan beragama dengan baik dan bagaimana menghidupkan dan mengimplementasikan keyakinan/ iman yang kita miliki tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.

        Pada kegiatan sosialisasi “Autism is not a joke ” untuk pertemuan ke 3 dan ke 4 yang seharusnya diisi dengan sosialisasi di sekolah SMA Pelita Kudus. Tetapi setelah kami survey disekolah terdapat kendala, yakni karena siswa di sekolah SMA Pelita Kudus jumlahnya sedikit, siswanya dipindahkan ke sekolah Baptis Elim di daerah grogol.


(Surat Keterangan pindah sekolah)

         Maka dari itu kami mengkonsultasikan kepada TFI dan untungnya TFI memberikan solusi yang sangat meringankan dan tentunya sangat membantu kami. Solusi yang diberikan oleh TFI adalah mengadakan sosialisasi di 2 buah media sosial.  
      Metode yang kami gunakan dalam melaksanakan sosialisasi melalui media sosial ini adalah metod sharing. Dimana kami berbagi post-post yang isinya mengenai autisme di media sosial, hal ini agar public mengerti dan memahami tentang autisme, dan jika hati mereka tergerak maka mereka bisa melanjutkan post tersebut dan sharing melalui media sosial mereka, sehingga semakin banyak yang mengetahui.
       Sosialisasi yang kami lakukan melalui media sosial ini membuahkan respon yang positif dan cukup baik, dan sejauh ini belum ada komentar atau tanggapan yang negatif.


Survey Eksternal :

Survey eksternal yang kami lakukan adalah melihat bagaimana respon public dan teman-teman kami di media sosial. ternyata hasilnya cukup bagus, sebagian dari post kami mendapatkan respon yang baik. Baik respon yang berupa Like atau pun comment. Hal ini membuktikan bahwa sosialisasi melalui media sosial cukup efektif dan efisien karena di jaman sekarang orang lebih banyak meluangkan waktunya di sosial media.

Survey internal :

Pada sosialisasi yang dilakukan melalui media sosial ini, semua anggota melakukan sosialisasi nya dengan baik, dengan menggunakan materi yang mereka buat sendiri. Dan ketika mendiskusikan mengenai sosialisasi di sosial media ini, pada awalnya hanya beberapa yang langsung mengerti, yang lainnya belum, tetapi setelah diskusi lebih lanjut barulah mereka mengerti tata cara dan mekanisme dari sosialisasi kali ini. 


III. Penutup

Hasil kegiatan :

     Kesimpulan dari kegiatan sosialisasi yang kami lakukan adalah kita harus berusaha untuk mengerti dan memahami tentang apa itu autisme. Karena jika kita telah memahami apa itu autisme maka kita akan dapat bersikap lebih baik terhadap autisme tersebut dan bertindak lebih tepat untuk menghadapi autisme. Sehingga tidak ada lagi yang menjadikan autisme sebagai bahan lelucon. Hal ini berguna untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, dan tentunya juga menjaga hubungan baik dengan Tuhan melalui setiap perbuatan baik yang kita lakukan.

       Untuk sosialisasi atau kegiatan selanjutnya kami akan terus berusaha lebih baik lagi. 


Foto-foto sosialisasi melalui sosial media :


Nama : Aristama Budiono
                           
                                - Facebook : 9 Desember 2015



                                - Google+ : 10 Desember 2015




Nama : Calvin

                                - Faceboook : 9 Desember 2015





                                - Kaskus : 10 Desember 2015




Nama : Frans Yonatan


                                      - Facebook : 9 Desember 2015




                                      - Line : 10 Desember 2015

 





Nama : Julius Kevin

                               - Line : 9 Desember 2015



                               - Facebook : 10 Desember 2015


Nama : Kevin Satria Wibowo

                              -  Instagram: 9 Desember 2015



                              -  Facebook : 10 Desember 2015





Nama : Matthias

                                         - Instagram : 9 Desember 2015





                                    - Facebook : 10 Desember 2015




Nama : Suryanto Wijaya

                                    - Facebook : 9 Desember 2015




                                    - Line : 10 Desember 2015





Nama : Yolgan Ciady
   
                                  - Facebook : 9 Desember 2015





                                  - Instagram : 10 Desember 2015





Sosialisasi "Autism is not a joke" Pertemuan 2

“Duta Peduli Autis di Sekolah SMP Pelita Kudus dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama 
Teach For Indonesia”

I. Bagian Awal

Kelas            : LF01 Character Building - Agama
Nama dosen : Agus Masrukhin
Kode dosen  : D3739
Waktu          : Senin, 7 Desember 2015
Pukul           : 11.00 - 12.00
Durasi          : +- 60 Menit
Lokasi          : SMP Pelita Kudus, Jalan Indraloka Raya No.33A 
                       Wijaya Kusuma Grogol Petamburan Jakarta Barat
Jumlah siswa/peserta : 30 orang
PIC : Bpk. Antonius Sukahar

Hadir :

Ketua :
Frans Yonatan - 1801403785

Anggota yang hadir :
1. Matthias - 1801407732
2. Yulius Kevin - 1801428970
3. Aristama Budiono – 1801387163
4. Yolgan Ciady - 1801388191
5. Kevin Satria Wibowo – 1801401451
6. Suryanto Wijaya -  1801411502

Anggota yang tidak hadir :
1. Calvin – 1801449981
    Alasan tidak hadir : masih belum sembuh dari cidera di kaki akibat kecelakaan.             (tidak mendapat surat keterangan dari dokter)
         

Dari kiri ke kanan :  (Aristama B,Frans Y, Suryanto W, Matthias, Kevin S.W, Yolgan C, Julius K)

II. Bagian Isi

a. Teori yang diajarkan di kelas melalui mata kuliah Character Building adalah Tentang apakah itu agama, dan bagaimana  agama itu seharusnya  berperan dalam kehidupan setiap individu di lingkungannya. Secara garis besar agama adalah suatu institusi/wadah  yang mengatur kehidupan rohani manusia. di mata kuliah CB – Agama ini kita diajarkan agar tidak puas dengan hanya memiliki agama saja, tetapi yang lebih penting adalah memiliki iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan dimata kuliah ini juga kita kembali diingatkan kembali untuk terus menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, dan mencintai Tuhan dengan segenap hati kita. Mata kuliah ini juga membahas tentang bagaimana menjalankan kehidupan beragama dengan baik dan bagaimana menghidupkan dan mengimplementasikan keyakinan/ iman yang kita miliki tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
        Pada kegiatan sosialisasi “Autism is not a joke ” minggu ini, sama seperti sebelumnya kami berdiskusi tentang waktu dan tempat untuk berkumpul untuk pergi ke sekolah bersama-sama keesokan harinya. Dan kami juga tidak lupa mempersiapkan semua attribut dan perlengkapan untuk sosialisasi. Pada saat pertemuan kali ini beberapa teman kami datang terlambat sekitar 5-10 menit karena terjebak macet dari kampus, karena tanggal 7 Desember bertepatan dengan diadakannya Binus Festival dan teman-teman kami mendapatkan tugas sebagai visitor di event tersebut. Sesampainya di sekolah kami langsung menemui Bpk. Anton kepala sekolah SMP Pelita Kudus untuk mengkonfirmasi pelaksanaan sosialisasi.
            Kami memulai sosialisasi dengan dengan materi yang lebih banyak mengenai bagaimana bersikap dengan baik dan tepat terhadap autisme, dan membagikan flyer tentang autisme, sebagai attribut campaign. Di pertemuan ini kami masih menggunakan metode classroom untuk mempresentasikan bahan materi sosialisasi kami, tetapi kali ini kami menambahkan beberapa video untuk ditonton peserta, karena kami menganggap penyampain lewat video lebih menarik dan lebih efektif. dan kami juga tetap memberikan challange seperti pada minggu sebelumnya, tetapi kami memotivasi peserta dengan akan memberikan hadiah bagi yang berani menerima challange/menjawab pertanyaan/ mengajukan pertanyaan. dan terbukti kali ini lebih banyak siswa yang berani menjawab/ mengajukan pertanyaan. Pada metode classroom yang kami gunakan tersebut terdapat satu hal positif yang paling membantu dalam penyampain materi sosialisasi yaitu dengan menggunakan metode ini materi yang disampaikan kepada para peserta lebih mudah dicerna karena di kelas biasa pun mereka sudah terbiasa dengan metode ini. Tetap hal yang kurang baik dari metode ini adalah mengontrol siswa lebih sulit, karena mereka lebih mudah mengobrol.
             Dari quisioner yang kami bagikan kepada para siswa dipertemuan kali ini, secara keseluruhan meresponi dengan positif walaupun kami tahu bahwa masih ada beberapa hal yang miss dan perlu diperbaiki untuk selanjutnya.
Survey Eksternal :

Survey eksternal yang kami lakukan adalah dengan memberikan quisioner tentang presentasi kepada para siswa/ peserta, pada  akhir pertemuan sosialisasi . Pada pertemuan kali ini hasil survey sosialisasi yang lakukan mendapatkan apresiasi yang cukup baik, mungkin juga karena ada beberapa video tambahan yang membuat sosialisasi lebih menarik dari sebelumnya. Dan kami juga senang karena ada komentar yang memberikan nilai sangat baik untuk kami.
Kesimpulannya sosialisasi kedua yang kami lakukan ini sudah cukup baik, dan dapat lebih memotivasi daripada sebelumnya .


Survey internal :

Pada pertemuan kedua semua anggota dapat menjadi contoh yang cukup baik, karena semua telah melaksanakan tugas masing-masing dengan baik. Yang masih harus lebih semangat lagi tidak ada, karena hampir semua anggota merasa antusias dalam mengajar dan kebanyakan dari kami juga merasa senang karena para peserta sangat menghargai dan memberikan respon yang baik.


III. Penutup

Hasil kegiatan :
a. Dibandingkan dari awal sosialisasi dengan di akhir sosialisasi, kami dapat melihat bahwa peserta sudah lebih mengerti maksud dari materi sosialisasi yang kami sampaikan. 

b. Seperti pada pertemuan sebelumnya di akhir sesi presentasi kami, kami memberikan pertanyaan kepada siswa mengenai tindakan atau cara bersikap menghadapi anak dengan gangguan autisme. Ada beberapa orang anak yang berani menjawab pertanyaan tersebut dan kami beri hadiah.








       Melalui kegiatan sosialisasi "Autism is not a joke ini" kita menjadi termotivasi untuk berusaha mengerti dan memahami autisme. Namun, terkadang perbedaan tersebut tidak harus selalu dimengerti tetapi diterima. Karena jika kita bisa menerima perbedaan tersebut kita akan dapat menyikapi perbedaan tersebut(autisme/ perbedaan watak/ perbedaan-perbedaan lainnya) lebih baik. kesimpulannya dengan diselenggarakannya kegiatan sosialisasi ini dapat membuka mata orang banyak tentang autisme dan tidak memandang sebelah mata autisme tersebut. 
        Untuk sosialisasi di kesempatan-kesempatan lainnya, kami akan tetap berusaha melakukan kegiatan dengan semaksimal mungkin. Pada sosialisasi kali ini jumlah siswa/peserta yang hadir berjumlah 30 orang.

Form evaluasi :







Foto-foto sesi pertemuan minggu kedua :




                                    (Matthias, Yolgan, Kevin S.W, Aristama, photo by : Julius)

                                         (Aristama, Suryanto, Matthias, photo by : Frans)

                                                       Sesi menonton video tentang autism




                                         (Matthias, Kevin S.W, Frans, photo by : Julius)

                                 


                                   Foto bersama Kepala Sekolah beserta guru SMP Pelita Kudus 




Sosialisasi "Autism is not a Joke" Pertemuan 1

“Duta Peduli Autis di Sekolah SMP Pelita Kudus dalam Penerapan Mata Kuliah Character Building bersama 
Teach For Indonesia”

I. Bagian Awal

Kelas            : LF01 Character Building - Agama
Nama dosen : Agus Masrukhin
Kode dosen  : D3739
Waktu          : Senin, 30 November 2015
Pukul           : 11.00 - 11.45
Durasi          : 45 Menit
Lokasi          : SMP Pelita Kudus, Jalan Indraloka Raya No.33A 
                       Wijaya Kusuma Grogol Petamburan Jakarta Barat
Jumlah siswa/peserta : 26 orang
PIC : Bpk. Antonius Sukahar

Hadir :
Ketua :
Frans Yonatan - 1801403785
Anggota yang hadir :
1. Aristama Budiono – 1801387163
2. Matthias - 1801407732
3. Suryanto Wijaya -  1801411502
4. Yulius Kevin - 1801428970
5. Yolgan Ciady - 1801388191
6. Kevin Satria Wibowo – 1801401451
Anggota yang tidak hadir :
1. Calvin – 1801449981
          Alasan tidak hadir : cidera di kaki akibat kecelakaan. (tidak mendapat surat keterangan dari dokter)
   
II. Bagian Isi

a. Teori yang diajarkan di kelas melalui mata kuliah Character Building adalah Tentang apakah itu agama, dan bagaimana  agama itu seharusnya  berperan dalam kehidupan setiap individu di lingkungannya. Secara garis besar agama adalah suatu institusi/wadah  yang mengatur kehidupan rohani manusia. di mata kuliah CB – Agama ini kita diajarkan agar tidak puas dengan hanya memiliki agama saja, tetapi yang lebih penting adalah memiliki iman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dan dimata kuliah ini juga kita kembali diingatkan kembali untuk terus menjalin hubungan yang baik dengan Tuhan, dan mencintai Tuhan dengan segenap hati kita. Mata kuliah ini juga membahas tentang bagaimana menjalankan kehidupan beragama dengan baik dan bagaimana menghidupkan dan mengimplementasikan keyakinan/ iman yang kita miliki tersebut di dalam kehidupan sehari-hari.
             Untuk melaksanakan kegiatan sosialisasi “Autism is not a joke ” kali ini, mulai dari dua hari sebelumnya kami berdiskusi tentang masalah teknis pelaksanaan dan kami mempersiapkan segala macam bahan materi untuk sosialisasi, mulai dari power point, form evaluasi, flyer(attribute campaign), dan form survey untuk para siswa. Sehingga pada malam hari sebelum sosialisasi kami hanya mendiskusikan tentang waktu dan tempat berkumpul dan bagaimana untuk pergi ke sekolah. Pada hari sosialisasi, pertama-tama kami menemui Bpk. Anton kepala sekolah SMP Pelita Kudus terlebih dahulu untuk membicarakan perihal teknis pelaksanaan(ruangan, fasilitas, dsb).
            Setelah itu kamipun memulai sosialisasi, dimulai dari pembagian brosur/flyer tentang autisme yang kami buat. Pada sosialisasi pertama kami ini, kami memilih metode classroom untuk mempresentasikan bahan materi sosialisasi kami. Metode classroom merupakan metode pembelajaran yang sering dan umum digunakan oleh para guru untuk mengajarkan materi kepada muridnya. Dari metode tersebut satu hal positif yang paling menonjol dari metode ini yaitu penyampaian/ delivery materi lebih mudah diproses, karena kami melihat bahwa siswa/i lebih nyaman dan tidak gugup menghadapi kami/ para presenter didepan, karena jumlah mereka lebih banyak. Tetapi hal yang kurang baik terhadap metode tersebut adalah siswa lebih mudah mengobrol dan berisik, karena tidak didampingi satu persatu oleh kami/ para presenter, seperti dalam metode mentoring.
             Dari quisioner yang kami berikan kepada para siswa/I tersebut, hasil kinerja sosialisasi kami mendapatkan apresiasi yang cukup baik. Tetapi terdapat juga beberapa komentar yang menyatakan beberapa kekurangan selama sosialisasi. Secara keseluruhan pada saat kami melaksanakan sosialisasi tersebut, para siswa terlihat cukup senang,dan antusias karena mungkin sebelumnya belum pernah ada yang bersosialisasi khususnya tentang autisme disana.

Survey Eksternal :

Survey eksternal   yang kami lakukan adalah dengan memberikan quisioner tentang presentasi kepada para siswa/ peserta, pada  akhir pertemuan sosialisasi ini. Hasil survey sosialisasi yang kami lakukan adalah cukup baik, walaupun masih terdapat komentar-komentar yang membangun/ komentar tentang kekurangan selama sosialisasi, seperti komentar yang menyatakan bahwa presenter terlihat gugup atau presenter menyampaikan materi sosialisasi terlalu cepat.
Kesimpulannya sosialisasi pertama yang kami lakukan sudah cukup baik, tetapi kami masih harus memperbaiki cara presentasi, dan meningkatkan efisiensi selama bersosialisasi, agar siswa/peserta dapat tetap fokus dan mudah menyerap maksud yang ingin kami sampaikan.



Survey internal :

Pada pertemuan kali ini menurut saya semua anggota patut di apresiasi dan patut menjadi contoh, karena semua anggota datang tepat waktu,  dan semua perlengkapan dan atribut dibawa dengan lengkap, dan hampir semua tugas yang telah dibagi-bagi sebelumnya sudah tepat dilaksanakan, walaupun masih belum efisien. Dan yang masih kurang/ yang perlu lebih semangat lagi menurut saya tidak ada, hal tersebut mungkin karena koordinasi/komunikasi yang dilakukan sebelum kegiatan dimulai.


III. Penutup

Hasil kegiatan :
a. Sejak awal dimulainya sosialisasi kami melihat bahwa para siswa cukup serius memperhatikan presentasi. Pada awal kegiatan ketika kami mengajukan pertanyaan kepada para peserta untuk menjelaskan apa itu autisme dan apa makna dari flyer yang kami berikan, belum ada yang berani menjawab. Tetapi dipenghujung presentasi ada beberapa pertanyaan yang di ajukan peserta. Dan dari sini terlihat bahwa pemahaman para siswa tentang autisme sedikit banyaknya telah meningkat.
b. Pada akhir presentasi kami memberikan tantangan bagi para peserta untuk menjelaskan arti dari flyer yang kami bagikan. Dan ada seorang anak yang berani untuk menjelaskan.



       Kesimpulan dari kegiatan sosialisasi yang kami lakukan adalah kita harus berusaha untuk mengerti dan memahami tentang apa itu autisme. Karena jika kita telah memahami apa itu autisme maka kita akan dapat bersikap lebih baik terhadap autisme tersebut dan bertindak lebih tepat untuk menghadapi autisme. Sehingga tidak ada lagi yang menjadikan autisme sebagai bahan lelucon. Hal ini berguna untuk menjalin hubungan baik dengan sesama manusia, dan tentunya juga menjaga hubungan baik dengan Tuhan melalui setiap perbuatan baik yang kita lakukan.
        Untuk pertemuan selanjutnya kami akan berusaha melakukan untuk memperbaiki cara presentasi dan membuat materi presentasi menjadi lebih menarik, untuk meningkatkan antusiasme siswa. Dan jumlah siswa/peserta yang hadir berjumlah 26 orang.

Form evaluasi :




Foto-foto sesi pertemuan minggu pertama :

                                       (Perkenalana awal : Julius, Suryanto, photo by : Frans)




(Frans, Suryanto, Yolgan, Kevin S.W, Aristama, photo by : Julius)

                                               (Matthias, Suryanto, Yolgan, Kevin S.W,  photo by : Julius)